13 September, 2009

Adinda


Ass Wr Wb. . . .

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kalau sudah habis Ramadhan Tahun ini, mudah mudahan kita masih diberi kesempatan untuk berpuasa lagi di Ramadhan berikutnya dan berikutnya lagi.Amin.

Kita panjatkan rasa syukur pada Sang Pencipta yang telah memberi begitu banyak kemudahan dalam ke hidupan ini,kalaulah kita dibiarkan begitu saja , tanpa kasih dan sayang Nya ,tentu kita sudah celaka . Rasakanlah betapa karunia dan nikmat dari Allah itu sangat amat banyak dan tak terhingga, tak sanggup kita menghitungnya. Begitu tak terjangkau akal dan pikiran kita , bagaimana harusnya kita bersyukur, berterimakasih pada Tuhan Yang Maha Lembut.Yang menghidupkan dan yang memberi kehidupan .

Selanjudnya kita sapa pula dengan rasa Rindu yang mendalam serta kita ucapkan salam pada Baginda Nabi Besar Muhammad saw, manusia pilihan , yang dengan perjuangan dan cinta ke umatnya ,kepada kita semua , beliau rela berkorban jiwa dan raga. Lahir dan bathin. Semogalah Surga untuk beliau dan para sahabat setya serta keluarga yang di cintainya,termasuk umatnya sampai akhir zaman. Insyaallah termasuk kita . Amin

Adinda, , , Tulisan ini serius, pembicaraan di bulan suci Ramadhan ,bulan yang mulya di antara bulan yang lainnya ,.bulan seribu bulan

Nah , sekarang kita mulai . Begini ceritanya, ketika dinda mungkin sekolah esde, atau esempe, atau mungkin es em a gitu, entahlah, pasti masih segar dalam ingatan bahwa orang tua kita , Abak.Ya sekarang kita bicara sedikit soal beliau , kita kembalikan memori kita barang sejenak ke masa silam, masa kanak kanak dinda, sebab ketika itu kanda sudah remaja, maklum kanda lebih dulu ada , sekitar 10 tahun selisih antara kita.

Mungkin agak samar samar sama dinda, Ketika itu kanda masih ingat betul , beliau pernah dapat musibah begitu lama, kalau tidak salah hampir setahun beliau jatuh sakit, sakit terbaring lama. Sebelum beliau sakit ,kegiatan usaha adalah buka toko di belakang pasar 66 pasar atas Bukittinggi. Nama toko itu kanda tak ingat, tetapi toko itu menjual alat alat bangunan, seumpama cat, tiner, dan lainya yang berhubungan .Kanda Erman Tanjung lah yang menjalankan usaha ketika itu, yang semasa itu kanda Erman Sekolah di Landbouw, sekolah Tehnik Negeri Bukittinggi. Maaf, sekolah kakanda Erman tak tamat karena sudak kenal pasar dan berdagang, sudah mengenal uang . Kondisi ini sebelum tahun 1970

Semisal seperti ruko sekarang lah kondisi di belakang pasar ketika itu, tapi masih bangunan belanda, bangunan yang tidak pakai tulang beton,pasangan batubatanya sangat tebal , berlantai kan papan.Di lantai bawah dibagi dua bagian, kalau kita memandang ke dalam toko tersebut, sebelah kanan adalah kios atau usaha Abak, sebelah kiri bukan beliau yang usaha, itu orang lain. Kami memanggilnya dengan sebutan mak Datuak, orang sianok, dia buka bengkel servise radio , atau sesekali pesawat televise, maklum TV belum popular ketika itu . Radio pun bukan seperti sekarang ukurannya, hampir semua radio itu berukuran besar, pakai tabung, gagah penampilannya dan sangat bagus suaranya. Siaran yang popular masa itu adalah siaran Malaysia, suara Amerika, BBC London dan tak ketinggalan RRI stasiun Bukittinggi dengan acara vaforitnya Pilihan Pendengar.Mungkin disanakah kanda Erman cikal bakalnya belajar elektronik,berkoresponden dengan beberapa Radio Luar Negeri. Antara lain Radio Kanada, Malaysia ,Jepang, Amerika , Nederland dan masih banyak lagi.Sampai akhirnya kanda Erman pindah ke Padang di toko Mesra dan selanjutnya berwiraswasta sendiri hingga terdampar di Kualalumpur Malaysia

.Zaman terus bergulir, sejarah terjadi. Tepat jam 2 malam, tanggal 2 bulan 2, tahun 1972 ,Pasar Atas yang historis dan terkenal itu di hantam badai merah . Sejarah pahit untuk pedagang Bukittinggi. Areal seluas hampir satu hektar itu ludes di lahap sijago yang paling ganas , panas, jago merah.Pasar yang ada los galuang peninggalan kolonial itu terbakar. Kejadian ini tidak mengenai dagangan Abak sebab sebelum terbakar toto sudah dikembalikan pada yang punya. Tidak Abak lagi yang menyewa.Sebagian peninggalan toko bisa dinda lihat di tangah rumah, lemari samba dan meja makan yang enam kursi. Peganglah kursi itu, pejamkan mata dinda, suruh saksi sejarah itu berbicara, tapi sayang suaranya tak akan mampu kita mendengarkan, karena telinga rohani dan jiwa kira sering terabaikan, tak di asah dan kesadaran kita sering di anaktirikan. Tapi ya . . . .sudahlah.

Sekarang kita kembali ke pembahasan utama, tentang Abak.

Beliau sakit kalau tak salah antara tahun 69 sampai tahun 71, data yang akurat tak ada, perlu dilihat lagi di tumpukan dokumen lama .Sebelum sakit kita semua belum lama kehilangan keluarga yang sangat disanyangi, namanya Jumiaty. Adik dinda ini orangnya lincah, lucu, energik, pintar, cenceng dan sangat disukai oleh keluarga Tilatang. Sampai sampai bako kita memberi Jumiaty ternak berupa Itiak sawah.Dan berkembang biak di kandang kita sampai beberapa tahun kita tak pernah membeli telor Itiak.Jumiati wafat dalam usia 6 tahun, kejadian ini tahun 1966. Ada satu lagi adik dinda yang meningggal namanya Marnis, perempuan juga. Alhamdulillah, Sembilan anak Abak semua yang denga Amak, tujuh orang diantaranya awal huruf namanya adalah ejaan E, dua lagi ejaan bukan E, yaitu Jumiaty dan Marnis. Mari kita simak, ada apa dengan huruf E ini, buktinya sampai sekarang belum ada yang pulang ke akhirat, sedang kan yang bukan ejaan E sudah lama berangkat.Inilah rahasia yang belum terpecahkan, atau hanya factor kebetulan belaka, Tuhan yang tahu.

Soal sakit Abak, Pertama beliau terbaring di rumah , di kamar , lalu dipindah di luar, ditidurkan di atas dipan di kapalo rumah, cukup lama. Kanda masih ingat , bekas kaleng susu kental manis, atau sekarang susu cap nona, bisa dibayang kan sebesar apa kaleng itu,lalu pinggiran kaleng itu di ratakan agar jangan ada sisa sengnya yang tajam, dengan benda itulah kanda menampung pipis beliau, ya siang ya malam, berhari, berbulan lamanya.

Suatu ketika amak kita menangisi beliau didepan kanda, menangis tersedu sedan , berurai air mata.Entah karena apa tak tahu jugalah,rupanya amak mengeluhkankan masalah kehidupan selanjudtya. Anak anak beliau belum ada yang lepas, jangan pergi dulu, jangan tinggalkan kami , baban sadang barek. . Kira kira begitulah rintihan dan perasaan amak ketika itu.

Cobalah bayangkan , 7 orang anak , belum ada yang tamat sekolah, belum ada yang kerja, apalagi menikah . Itulah saat terberat bagi siapa saja dalam kondisi seperti itu. Galau. Sementara amak selama ini belum bisa cari uang untuk menghidupi rumah tangga.Amak biasa dimanja oleh Abak , tidak keparak tidak pula ke pasar, kecuali belanja. Belum terbiasa dan tak terbayangkan di tinggal suami dalam Susana yang memprihatinkan .Suatu kali orang tua kita ini pergi ke pasar berdua , bak keluarga bahagia dan terpandang, kepada Amak ditawarkan memilih apa yang Amak sukai . Serta merta tentu seorang wanita cari barang kesukaannya,pilihan Amak jatuh pada sebuah tas tangan cantik, berwarna merah buatan luar negeri, mereknya IMPALA. Carilah di gudang belakang, mungkin masih ada bangkainya.

Entah apa ceritanya, entah ide dari mana, entah siapa yang menyuruh, lalu Abak dibawa ke rumah sakit, dirawat, Sebelumnya beliau tak mau di rawat. Yang dinda ingat , kanda sering dibawa amak pergi mandosoan ubek ke beberapa orang pintar atau dukun barangkali ya, ada di jangkak, pernah pula di ipuah, baso, dan tempat lain yang sudah tak ingat lagi.

Dari satu tempat berobat pindah ke tempat berobat lainnya, silih berganti, , selama beliau terbaring sakit.

Pada suatu hari terdengarlah kabar bahwa ada teman Veteran beliau yang bisa memberhentikan hujan , orang kita menyebutnya Tukang Sarang Hari, ketika itu jasanya di perlukan karena ada keluarga yang baralek. Bie Adang baminantu, tantara domu , urang jawa, Bermawi namanya.Tukang sarang hari tu bernama mak Tuah, kulitnya hitam legam , badan kecil berotot kekar, di jarinya banyak cincin batu yang kalau sedang manyarang hari cincin cincin di tangannya itu di gerak gerak kannya kearah atas langit ,sampai berbunyi. . krec. .krec. ..krec ,atau ke arah awan mendung itu.Alek bie Adang meriah sekali, pakai orkes, musik musik kata amai amai di kampung kita.Salah satu penyanyi nya adalah kawan Nesal, amak si an. Cantik orang nya , tapi lebih cantik juga Nesal kita.Kepada mak Tuah inilah salah satu tempat Abak berobat, metodenya menggunakan media hewan, pakai ayam jantan, disebut juga Bedah Ayam. Dengan kumat kamit dan jampi jampi dari mak Tuah yang kontraversi itu, lalu dilihatlah penyakit Abak melalui ayam yang dikorbankan yang sudah di sembelih . Nampaknya ada angsuran ,basuo rueh jo buku, kecek Amak lai baransua.Kami mulai berdarah lagi , bersemangat dan ada secercah harapan. Kami bersyukur.

Masih segar dalam ingatan ketika orang tilatang yang notabene adalah bako awak datang ke rumah silih berganti,saudara dan kemenakan beliau , teman teman seperjuangan di pasar atas, teman teman di legiun veteran dan handai tolan lainnya .Datang besuk silih berganti.Termasuk konco konco baburu.

Tuhan memang berkuasa sekehendakNya, berlahan lahan di rumah sakit keadaan mulai membaik, penyakit berangsur hilang, kesadaran mulai pulih . Kami pun semua menyambut gembira dengan kepulangan Abak kerumah dalam kondisi sangat membaik. Hari berganti, bulan berganti tahun., beliau mulai merenung, dan bersyukur.Beliau tersungkur di sajadah.Rupanya hidayah sudah datang, Tuhan memperlihatkan kuasanya, Abak berlinang air mata penyesalan, banyak diam dan berpikir, apa lagi yang akan terjadi sesudah ini.

Lalu datanglah saat yang paling menentukan dalam kehidupan Abak, beliau bertaubat sejadi jadinya.Menyesali berbagai perbuatan yang tidak terpuji selama ini, beliau tinggalkan minuman brandy yang di campur dengan anak kijang itu . Biasanya kalau ada tamu khusus, bukan teh atau kopi yang dihidangkan, dan beliau sendiri yang menyuguhkan minuman kebesaran itu. Beliau jauhkan diri dari judi ,hobby berburu babi tinggal kenangan, anjing racun kesayangan beliau tidak lagi menarik perhatian . Anjing yang sangat patuh pada tuan nya, warna bulunya kuning muda, sering dikasi susu, dan Abak sering memandikan binatang peliharaan itu dengan air belerang. Si anjing racun manggut manggut saja keenakan dan dia tahu juga rupanya kalau tuannya sayang padanya ,setelah disabuni lalu si Racun di suruh berjemur agar kutu dan kotoran di bulunya betul betul hilang. Kontan saja Racun patuh dan segera nurut , dia mancongkong kapanehan di terik matahari pagi,sambil tersenyum dia memandang pada tuannya. Aduh dinda. . .kanda cemburu melihat dan mengenang pemandangan dua jenis makhluk Allah yang berkasih sayang itu.

Nah. . . .disinilah saatnya Abak kenal dengan bapak HM Ridwan, yaitu yang mengajarkan orang bagaimana cara berTuhan yang sesungguhnya., sesuai dengan perintah Al-Qur’an dan Hadist Nabi , Kelompok pengajian beliau dipusatkan di Mushola Nurul Haq.Mesjid yang pernah kanda beritahu pada dinda dulu, di samping gedung Bank Nasional lama.Nama pengajian tersebut ialah ILMU RUKUK DAN SUJUD .Ketika itu kalau tidak salah pak Ridwan ini menjabat Komandan Korem yang kantornya persis di Balai Bung Hatta sekarang, di Bukittinggi.Kejadian ini berkisar tahun 1972 sampai tahun 1975. Maaf kalau kanda keliru.

Kanda pernah dalam satu kesempatan dibawa beliau pergi ke pengajian tersebut, kanda berjumpa Pak Ridwan itu, lalu di lain kesempatan pernah pula pergi dengan uda kari, bapak iyon, pergi naik sepeda unto, uda kari baru saja menikah dengan kanda erly, mereka lagi pengantin baru. Masih terbayang raut muka pak Ridwan itu ketika menulis artikel ini, beliau bersih, mukanya bercahaya, lembut dan berdisiplin tinggi, maklumlah militer.

Adinda, , ,tahukan apa maksud dan tujuan kanda mengeluarkan dan membangkit memori lama itu, mengingat ingat lagi. Begini, ketika Abak belajar Ilmu Rukuk Dan Sujud itu, beliau sangat merasakan manfaat yang luar biasa, pintu Ruhani beliau betul betul terbuka karena hidayah Allah telah datang , Sholat beliau Khusu’ . Tidak jarang kalau waktu subuh sambil kanda menarik selimut karena kedinginan, Abak sholat begitu syahdu suaranya, punya cirri khas ,merintih karena asyik bersautan dengan Kekasihnya , mungkin beliau tak sadar kalau sambil menangis. Kanda sering menyaksikan beliau menangis kalau sholat.Beliau kalau sholat terjadi komunikasi dua arah .Subhanallah. . . . Merinding kanda menuliskan masa lalu yang menentukan ini .Inilah yang disebut Hijrah ke jalan yang benar.

Teman beliau dalam pengajian tersebut antara lain bapak si yon di batu ampek, kami memanggilnya mak Ameh. Selanjutnya Abak sampai menjadi team leader dalam kelompok ini, yaitu beliau pergi lagi menyiarkan dan memberikan ceramah tentang Ilmu Rukuk dan sujud ke daerah daerah dan kampung terpencil sekalipun , antara lain yang kanda ingat kampung Malalak, Baso sampai berhari hari tidak pulang.Pernah juga ada yang mengaji datang ke rumah, bahkan sampai menginap. Suatu ketika beliau kehujanan di jalan sehingga basah kuyub, semua basah , bukan hanya pakaian tetapi semua buku pelajaran dan catatan tentang berbagai hal ihwal ajaran dari pak Ridwan. Begitu hebat dan lebat nya hujan sehingga basah semuanya.

Tak terasa waktu berjalan juga tanpa bisa di perlambat atau dipercepat,rupanya kanda tamat juga sekolah di STM Negeri Bukittinggt, kami perpisahan dan pembagian ijazah bulan Desember tahun 1977.Setelah tamat sekolah bingung sendiri karena sebelumnya tak ada cita cita, hanya mengalir begitu saja. Berketepatan bulan September 1978 Mak adang kari Mansur pulang kampung, hanya sebentar dan segera berlalu , mau ke Jakarta lagi dan Kanda ikut dengan nya ke tanah Jawa untuk pertama kali.Ketika pamit ke Abak , beliau berpesan secara khusus, Pertama jaga budi pekerti dimana saja berada, pesan kedua berbuat baik dan jangan mengkhianati istri, pesan ketiga dari beliau agar kita punya kantong dua. Kecuali pesan khusus itu tentu ada saran dan pandangan lain yang sifatnya umum. Ketika kanda bertanya, Abak. . . .apa pekerjaan yang sebaiknya tidak di lakukan kalau sudah sampai di Jakara nanti, dengan mantap beliau menjawab, jangan jadi Tukang Dobi dan jangan jadi Tukang Rageh.Selebihnya silakanlah, kerja apa saja.

Perjalanan kehidupan beliau selanjutnya tentu dinda bisa pula menyaksikan di kampung, karena dinda beranjak dewasa juga.Sudah sekolah SMP atau SMA. Kanda merasa puas bercumbu, bersenda gurau, berdiskusi dan mendapat perhatian dan kasih sayang walau di usia semakin renta. Beliau berbicara dengan kita sangat hormat, padahal kita sebagai anak. Terkadang kita jadi malu sendiri dibuatnya. Pernah suatu ketika, kebetulan kami habis makan di rumah karena kanda sering pulang bawa nasi bungkus, sehabis makan berdiri buka lemari, rupanya mengambil pisang gadang yang sudah kuriak. Beliau ambilkan pisang itu dan diberikan ke tangan kanda. Atau pernah juga dan sering malah, ketika kanda mengeluarkan rokok dari kantong, beliaupun berlalu ke belakang atau ke dapur, sesaat datang lagi, rupanya pergi mengambil asbak .Subhanallah ,pekerti beliau tiada duanya.Kita tentu bersyukur karena di sisa sisa tenaga di hari tua , masih diberi kesempatan untuk mencium wanginya Ka’bah, masih bisa Tawaf, selamat pulang dan pergi , beliau berangkat ke Ma’kah Al-Mukaramah tahun 1996. Setahun sebelumnya Amak yang pergi.Pada 25 Ramadhan 1422 H, bertepatan tanggal 11 Desember 2001, orang yang kita cintai dan sosok penyabar itu pergi,kita berduka. Entah sampai kapan duka lara ini. Rasanya baru kemaren saja kejadian ini. Ya Allah. . . .Angkatlah derajatnya, tempatkan beliau di SurgaMu yang ada air sungai mengalir, , ,Seperti yang Engkau kisahkan dalam kitabMu.Amin Ya Allah.

Adinda yang berbahagia bersama keluarga di kampung,, , ,

Kini baru kanda menyadari , kini bari kanda paham kenapa Abak kalau sholat bisa menitikan air mata. Ternyata beliau sudah dapat ilham ,taubat yang dilakukan beliau sungguh sungguh. Apa arti semua ini, hidup ini hanya senda gurau belaka. Dunia ini hanya persinggahan sementara. Semua akan sirna, ta ada yang abadi , tak ada yang kekal, yang kekal hanya Zat yang Satu. Yang kekal hanya Sang Pencipta, dialah Allah Yang Maha Lembut. Tuhan yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan , apa yang bisa kita teladani dari kisah almarhum Kasmin Hamid St, Panduko. Bagaimana kita bisa melakukan dan berbuat sesuatu yang berarti , yang bisa pula bermanfaat untuk kehidupan kita dan anak kemenakan kita nanti.

Sekarang Kanda akan mengusulkan pada dinda , inilah saatnya , coba dinda bongkar lemari Abak lagi , baik lemari yang di kamar atau yang terpajang di ruang tengah , lemari buku di tangah rumah. Coba dinda kumpulkan apa saja catatan atau buku yang menyangkut Ilmu Rukuk dan Sujud. Mari kita kaji lagi untuk kita, untuk kehidupan iman kita yang lebih baik. Mari tundukan kepala dan hati kita, apakah shalat kita sudah betul dan benar,bagaimana parangai kita pada masa lalu, apakah kehidupan ruhani kita sudah kita kenali.Ingat dan sadarilah , Tuhan Maha Pengampun.Tiada manusia tanpa kesalahan

Pejamkan lah mata sesaat, sadari dan lihatlah dengan mata bathin , apa sudah betul dan sesuai dengan ruhani kita perbuatan kita selama ini. Di rumah kita ini masih ada sisa sisa Ilmu Rikuk Dan Sujud, ajaran yang merobah jalan hidup Abak kearah yang lebih baik . Mari kita cari catatan lama, tulisan tangan beliau, untuk kita pahami dan ikuti ,dipadukan dengan www.shalatcenter.com untuk kita pelajari ,mudah mudahan kita di beri petunjuk oleh Allah. Amin. A i l a v y u.

2 komentar:

  1. Tulisan ini sebenarnya bertujuan untuk semua keluarga besar dari keturunan Mak Panganak , khusus nya keturunan Abak dan Amak-ku
    Akan tetapi sesungguhnya bertujuan juga untuk Adinda Erizonhar, untuk perenungan dan spirit menyongsong masa depan .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dunsanak.. dima ambo bisa mandapekan buku ilmu rukuk dan sujud karangan bpk H.AM Ridwan tu

      Hapus