10 Oktober, 2009

A R N I T A

gempa telah merubah segalanya tentang masa lalu

musibah 30 september 2009 yang merobek robek duka dan suka lama

Segalanya telah berubah, dan perubahan itu tak bisa lagi berubah

Masa terus berlalu, bulan bergaanti, ratusan purnama telah terlewati

Kini suasana sangat berbeda, roda zaman telah menggilas dengan titah-Nya

Hiruk pikuk penuh sibuk mengisi hari, menggapai cita dan angan indah

Suatu ketika, engkau selipkan saputangan sebagai tanda perpisahan

Kini setelah 30 tahun, tanda kenangan yang cerah itu telah kusam.

Sudah berobah warna karena seringnya ku pandangi, dan kuratapi.

Kunikmati dan kusyukuri, kurenungi tiada henti, mungkin hingga mati

.

Gempa telah merubah dan telah mengalirkan darah dan air mata.

Kuartikan juga gempa adalah getaran jiwa, mengenang suatu masa.

Saat indah dan gelora asmara bermula, dibuai mimpi panas membara

Ketika cinta tak terelakan mengayun angan, bersuka ria bernyanyi di jiwa.

Malam ini suasana tentu tidak sesuai dengan mimpi yang di rajud dulu.

Karna sayap-ku patah sebelum terbang, tuk menuju bulan dan bintang

Biarlah puisi ini yang menyampaikan pada malam indah penuh syahdu

Selamat ku ucapkan atas bahagia yang kurasa untuk-mu.

Dengan putri putri yang cantik mengantar tidur-mu.

Kini aku sadari kesungguhan cintaMu ya Allah, ya memiliki semua rindu dan kasih

Aku ikhlas denga semua ini, karena aku adalah memimpi yang bodoh

Atas kelancangan mimpi itu, aku bertaubad pada-Mu.

Maaf kan aku,bimbinglah jiwaku menuju pelukan-Mu

Laras pku, 09/10/09.02.02

1 komentar:

  1. KENAPA JUDUL TAK PERNAH DI SEBUT DALAM PUISI ITU, APA ARTI JUDUL TERSEBUT

    BalasHapus